Bila Anda pernah minum air kemasan dengan merk ternama atau pernah melihat truk tangki air yang bertuliskan dari mata air Prigen, maka tentu akan membayangkan melimpahnya air didaerah kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawatimur. Ironisnya, beberapa daerah diwilayah kecamatan Prigen mengalami kesulitan air bersih. Termasuk di lingkungan Watuadem kelurahan Pecalukan, yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sebelumnya masyarakat Watuadem menggunakan air dari PDAM, tetapi dimusim kemarau air sering mati, saat musim hujan air cenderung lancar tapi kondisinya keruh dan tidak layak konsumsi. Pada musim kemarau masyarakat kadang terpaksa membeli dari perusahaaan air swasta yang harganya Rp.125.000 per tangki (2000 liter). Bahkan untuk kegiatan memasak mereka pun tak jarang menggunakan air mineral kemasan. Karena untuk mengambil air dari sumber mereka harus berjalan kaki kurang lebih 2 km naik gunung. Sungguh sebuah ironi dan perjuangan yang berat untuk mendapatkan air diwilayah yang dulu terkenal dengan air bersihnya yang melimpah.
Disamping itu, kebanyakan villa - villa perusahaan, hotel dan perusahaan air yang berada di kecamatan Prigen, mengambil air secara langsung dari sumber air, sehingga debit air PDAM semakin kecil. Air pada sumber-sumber air terdekat telah dikuasai secara permanen dan pribadi oleh villa, hotel dan perusahaan air dengan teknologi dan sumber dana yang besar mengakibatkan warga “kalah” dalam mendapatkan air. Dan masyarakat tidak memiliki dana yang cukup untuk membangun jaringan air bersih secara mandiri. Pada tahun 2005, adalah Soeharto (67 tahun), seorang tokoh masyarakat Watuadem, yang menggagas ide untuk mengatasi masalah air dengan membentuk Paguyuban Pengguna Air Minum “Toya wening” yang akan mencari sumber air dan membangun jaringan air. Namun seperti yang diungkapkan diatas, mereka kesulitan dalam hal biaya. Keloimpok ini berusaha mendapatkan pendanaan dengan menghimpun sumbangan dan iuran dari warga sekitar, karena dalam waktu yang lama dana juga belum mencukupi, usaha tersebut terhenti untuk sementara. Saat mereka mendengar ada program PNPM Mpd, mereka melakukan musyawarah lingkungan untuk mengusulkan program pipanisasi air bersih untuk didanai lewat PNPM Mpd TA 2011. Usulan itu kemudia berlanjut pada musyawarah tingkat desa, melalui MDP, disepakati untuk dibawa pada MAD prioritas di kecamatan. Kemudian fasilitator desa bersama Tim penulis usulan dengan didampingi oleh fasilitator kecamatan membuat proposal usulan desa. Setelah di survey dan diverifikasi oleh Tim Verifikasi kecamatan. Pada Musyawarah Antar Desa Penetapan di kecamatan, usulan tersebut disepakati untuk didanai oleh PNPM. Setelah usulan tersebut diterima, dilaksanakanlah pembuatan RAB dan design oleh Fasilitator teknik untuk menentukan detail pekerjaan dan besaran biaya proyek bersama TPK. Dengan dibantu pendanaan sebesar Rp. 99.385.800,- dari PNPM MPd, serta dibantu swadaya masyarakat sebesar Rp.28.832.000,- sehingga total biaya menjadi Rp. 128.217.800,-, dilaksanakanlah pembangunan Pipanisasi dan Tandon Air untuk masyarakat lingkungan Watuadem, dengan Panjang 2.350 meter dari Sumber air yang terletak di lereng gunung Welirang menuju pemukiman masyarakat. Saat ini masyarakat Lingkungan Watuadem kelurahan Pecalukan Kecamatan Prigen merasa sangat terbantu oleh program PNPM MPd, karena telah dapat menikmati fasilitas air bersih yang sudah lama mereka idamkan, air bersih yang selama ini sulit didapat sekarang mengalir langsung ke rumah – rumah penduduk. Pemanfaat air minum ini berjumlah 430 orang yang terdiri dari 112 KK dan akan terus berkembang karena debit air masih sangat besar dan mencukupi. Pengelolaan dan pemeliharaan program air bersih ini dilaksanakan oleh kelompok Paguyuban Pengguna Air Minum (P2AM) “Toya Wening” yang sekaligus sebagai Tim Pemelihara dan Pelestarian PNPM MPd di desa Pecalukan, Sistem pengelolaan yang dijalankan adalah dengan mengadakan pertemuan rutin anggota, melakukan pemeriksaan dan rehabilitasi secara berkala terhadap saluran dan tandon air, serta menarik iuran dari masyarakat pengguna air sebesar Rp. 15.000,- perbulan sebagai sumber dana pengelolaannya. Musyawarah dan pertemuan rutin yang dilaksanakan P2AM antara lain ; pertemuan pengurus P2AM setiap bulan, pertemuan rutin dengan masyarakat pengguna air setiap 3 bulan sekali serta Pertanggungjawaban pengurus pada masyarakat yang dilakukan setahun sekali.
23.14
pnpm-pasuruan

0 komentar :
Posting Komentar